Welcome to Hidden Leaf!

Welcome, welcome!

This is the doomsday!

Friday, September 28, 2007

Bunyi Yang Paling Memekakkan Telinga Itu Adalah Keheningan.

Iya, aku tahu kok artikel baru ini agak aneh. Moso bunyi yang memekakkan telinga itu adalah keheningan. Tapi, yang pernah merasa nggak punya teman, dijauhi orang sekitar, dan nggak ada yang peduli pada dirinya walau sudah cari perhatian sebisa mungkin pasti ngerti.

Hari ini aku menemukan sesuatu yang penting—bahwa tak hanya aku yang tak punya teman di lingkungan sekitarku.

Panggillah dia Riddle. Aku menyamarkan nama aslinya karena, seperti yang harusnya sudah kau duga, aku tak mau menjadikan dia lebih dijauhi lagi karena dekat denganku, bahkan sehari ini saja. Walau begitu, diantara kalian yang paling tidak mengetahui nama asli Lord Voldemort (alias Dia Yang Namanya Tak Boleh Disebut, Kau-Tahu-Siapa, atau—ini favoritku—Pangeran Kegelapan), pernah membaca artikel di blog ini berjudul Kelas Paling Ajaib di Dunia, dan punya intuisi yang bagus, kemungkinan dapat menebak siapa yang kumaksud (perkecualian untuk murid SMPIA 19 Cibubur, tak perlu membaca artikel Kelas Paling Ajaib Di Dunia untuk mengetahui siapa yang kumaksud, cukup mengetahui nama asli Pangeran Kegelapan dan punya intuisi yang bagus).

Selama ini, Riddle kuanggap adalah anak yang punya banyak teman dan bersikap santai, juga tak ambil pusing soal nilai (toh nilainya tak terlalu buruk) pelajaran, dan hanya sekedar a classmate buatku. Tapi hari ini, aku di sekolah (itu karena aku MPK, sementara MPK dan OSIS masuk hari ini buat ngurusin sembako—Riddle adalah seorang anggota OSIS) sedang kesepian (dan bosan), memutuskan untuk menelepon ke rumah, minta untuk dijemput. Pada saat aku masuk ke TU, Riddle hanya terduduk dengan kepala terkulai begitu saja, memandang (kelihatannya ia benar-benar bosan seperti aku) cewek-cewek yang mengerubungi telepon. Aku duduk di sofa disamping Riddle.

“Oh, elu.” Dia kelihatan sangat tidak berminat melihat cewek-cewek yang ribut. “Nggak pulang lu Sa? Perasaan anak lain dah pada pulang deh.”

“Gue nggak tahu harus kemana,” kataku pelan. “Gue kesepian, gue nggak ada temen di sekolah...tapi kalo di rumah, gue juga nggak bisa ngapa-ngapain.”

“Sama, gua juga.” Sesaat kita diam. Riddle yang duluan memecah keheningan.

“Sa, memangnya lu ga punya mainan apa gitu sama sekali? PS?”

“Punya gue, cuma pasti dikuasain adek gue.”

“Komputer?”

“Punya sih, tapi komputer itu nggak terlalu seru dibanding PS. Gamenya terbatas, maennya pake mouse ato keyboard lagi. PS kan lebih enak dipegang, pake stik gitu.”

Riddle mengangguk pelan. “Setuju. Gua ga punya permainan yang bisa dimainin, PS juga dimonopoli adek gua, komputer juga nggak seru. Sementara temen...” Riddle menunduk. “Sejak gua pindah dari Semarang, temen-temen yang udah gua dapet hilang—mereka ada di Semarang. Gua kehilangan mereka. Gua nggak pernah srek dengan temen-temen gua sekarang ini—tak ada yang bisa memberi gua kepuasan waktu dulu di Semarang.”

Walaupun aku diam, tapi dalam hati aku tercengang. Riddle, yang disenangi untuk berteman oleh anak-anak, mengaku padaku yang bahkan dekat denganku aja enggak?

“Pindah rumah itu merepotkan,” kataku pelan. Riddle mengangguk pelan, bahkan lebih pelan dari anggukan tadi.

Tak lama, pintu TU terbuka.

Aku bisa merasakan emosiku yang terenyuh tadi mendadak menggelegak. Yang muncul dari pintu itu adalah Sulph, sekali lagi bukan nama asli (saking jijiknya aku tak ingin menyebutkan namanya), dan temannya...ehm...mungkin lebih pantas untuk menyebutnya bawahan, bernama Salt. 2 gadis sok keren ini berjalan dengan kegenitan luar biasa menuju meja TU untuk membayar sesuatu.

Tahu kenapa aku membencinya? Dia membuatku kehilangan 2 orang teman yang berharga. Akan kuceritakan di lain waktu.

Kembali ke 2 monyet pesolek, mereka terhenti ketika hendak keluar, mata mereka bertatapan dengan mata Riddle.

“Eh, elu, kakek,” kata Riddle dingin.

“Apa sih, songong lo,” sergah Sulph.

“Nah elu juga lagi, kakek buyut,” kata Riddle pelan pada Salt. “Pergi deh lu berdua.”

Aku mendapat kesan bahwa Riddle tahu aku membenci Sulph.

“Siapa juga yang mau ngedekem disini, wee!” dengan kata-kata itu, Sulph dan Salt ngeloyor pergi. Lalu masuk Pak Darus, salah satu guru yang aku suka cara ngajarnya.

“Eh, Galuh,” kata beliau. “Lagi ngapain? Kok nggak pulang?”

“Lagi nunggu yang jemput, pak,” senyumku.

“Terus, kalian ngapain disini? Jangan-jangan Galuh mau ngedeketin Riddle ya? Ato Riddle yang mau?” selidik Pak Darus.

Aku dan Riddle berpandangan, tersenyum, dan cepat-cepat membantah Pak Darus, merasakan perasaan akrab seakan kami sudah lama seperti ini.

No comments: